Dalam getar jiwa yang kudengar saat sepi
Ada namamu tergema
Begitu indah, hingga membuat lututku gemetar
Aku terduduk di sudut kamarku, tertunduk.
begitu kuat rindu ini menghunjam ulu hatiku.
Yang tersisa adalah penyesalan.
Penyesalan tentang waktu yang berlalu tanpa aku di sisimu.
Penyesalan tentang seringnya aku melupakanmu.
Seringnya aku menyakitimu.
Yang kudamba adalah pintu maafmu.
Begitu luas hatimu terhampar untukku.
Untuk cintaku.
Untuk rinduku.
Untuk kasih sayangku.
Dan untuk melupakan kesalahan-kesalahanku.
Dengan apa cantik, aku bisa membalas semua itu.
Sedangkan yang kupunya hanyalah sebentuk cinta.
Cinta yang kupunya begitu sederhana.
Tapi bahagia yang kubawa bersamanya.
bukan harta atau tahta, tapi sepenuh jiwa raga kuingin kau damai bersamaku.
bersahaja yang aku bisa.
menapaki gunung dan merenangi lautan.
Arsip untuk Januari, 2008
TERHUNJAM RINDU
Diposkan dalam Bebas, Cinta, Diary, Kawah Batin, Puisi Cinta, Unek-Unek, Label Bebas, Cinta, Diary, Kawah Batin, Puisi, Puisi Cinta pada Januari 25, 2008 | Leave a Comment »
10 Tempat Wanita Sering Dilecehkan
Diposkan dalam Puisi Cinta pada Januari 17, 2008 | Leave a Comment »
Aku nyoba nyusun 10 tempat di mana wanita sering mendapatkan perlakuan pelecehan sexual. Semuanya hanya berdasarkan pengamatan. Tanpa ada study kasus apalagi penelitian lewat quisioner. Jadi bagi yang mau menjadikan tulisan ini sebagai dasar, silahkan melakukan penelitian lebih lanjut. Batasan pelecehan di sini adalah mulai dipandangi lama, disiulin, perkataan sampai diraba-raba bahkan lebih. Karena hanya berdasarkan pengamatan, maka aku [...]
Lama Gak Nulis Karena…
Diposkan dalam Bebas, Cinta, Diary, Kawah Batin, Unek-Unek, Label Banjir, Bebas, Cinta, Diary, Kawah Batin, Soeharto, Unek-Unek pada Januari 17, 2008 | Leave a Comment »
Gila..
Lama banget aku gak nulis. Tahu-tahu hint udah 1000 lebih.
He he he..Hari ini aku baru pulang dari Ngawi. Biasa, ada tugas. Aku sempat tersenyum-senyum sendiri. Aku ingat korban-korban bencana beberapa waktu kemarin sekarang mungkin udah terlupakan karena tertutup oleh sebuah berita besar. Pak Soeharto sakit!
Aku gak pingin bahas masalah Pak Harto. Sudah terlalu banyak yang bahas. gak percaya? Silahkan kamu buka klik search engine, lalu kamu ketikan Tag yang berkaitan dengan itu. Maka dalam sekejap akan terkumpul ribuan bahkan mungkin ratusan ribu hal yang berkaitan dengan sakitnya [...]
Rindu Tanpa Batas
Diposkan dalam Bebas, Cinta, Diary, Kawah Batin, Puisi Cinta, Unek-Unek, Label Bebas, Cinta, daiary, Kawah Batin, Puisi Cinta, Unek-Unek pada Januari 9, 2008 | 2 Komentar »
Kuselipkan segala duka di sela reranting mawar
kutatap bola dilangit enggan berpijar
malas menembuskan sinarnya ke bumi
bercadar mendung disawang sepi
anganku kembara bersama angin
dalam resah berusaha hilangkan jarak
antara dirimu dan diriku
aku berdiri di pinggang bukit
meniti garis alit
pertemuan bumi dengan langit
sadar ada jarak antara di sana dengan di sini
entah berapa jauhnya
benarkah kita akan sanggup meraih satu titikdi cakrawala
berdiri di atas bukit
meniti di jalan jarum jam
sementara bernafas dalam-dalam
sadar ada jarak antara kini dengan nanti
entah berapa lamanya
benarkah kita sanggup menangkap satu detik di ujung waktu
matahariku
engkau tempat penangisanku
engkau muara hati dan jiwaku
Gundah
Diposkan dalam Bebas, Cinta, Diary, Kawah Batin, Puisi Cinta, Unek-Unek, Label Bebas, Cinta, Diary, Kawah Batin, pusi cinta, Unek-Unek pada Januari 8, 2008 | Leave a Comment »
Risik hutan
betah
Risik angin
gundah
Risik bumi
basah
Risik hati
resah
Kau dengar itu
wahai
sebentar diamlah
berdiri
sebentar memejamlah
sendiri
sebentar merenunglah
dalam kamarmu
sebentar dengarkanlah
dalam sunyi
aku menanti kebahagiaan sejati
yang kutiti bersamamu
biarkan cinta kita
tetap kokoh berdiri
terjaga dari kikisan waktu
Sementara desah angin tak kunjung berhenti…
Rindu Dingin
Diposkan dalam Bebas, Cinta, Diary, Kawah Batin, Puisi Cinta, Unek-Unek, Label Cinta, Diary, Kawah Batin, Puisi, Puisi Cinta, Unek-Unek pada Januari 8, 2008 | Leave a Comment »
Malam tergagap dalam gelapnya
bintang-bintang suram tenggelam dalam lautan
dingin menyusup pori merasuk dalam tulangku
meregang tubuhku kedinginan
rindu dekapanmu seperti kemarin
Serasa kau makin jauh
di sini aku sendiri sepi
sesaat lagi tengah malam kan tiba
sedang hujan di luar tak juga reda
seolah turut meratapi kesepianku di ketiadaanmu
sedangkan selimut tak mampu lagi menghangatkan tubuhku