Malam kian dingin dengan langitnya yang hitam
berkelip dalam pedih dan sakit
angin hangat dari timur tak mampu memulas rasa gelisah
yang turun ke dalam hati
bahkan ketika hari baru memberi janji
aku bergumul dengan mimpiku yang hilang
Kekasih..
Bila saja ada alat pemutar waktu
biar kubalik tahun, bulan dan hari
di mana kita berdua duduk di tepian telaga Sarangan
di remang malam bertabur bintang
dengan kelap-kelip cahaya lampu di kejauhan
Aku sungguh ingin bilang padamu
Bila saja aku boleh meminta
jangan pergi dulu sebelum kita bertemu lagi
seharusnya engkau menungguku
atau segera kau jemput aku
dan aku tak usah melewati hari-hari sendiri
melewati hujan, kilat dan geledek
Harum hujan menghantarkan wangi tubuhmu yang hangat
ke dalam mimpi dan birahiku
kulepas baju dari tubuhmu
ada desah lembut dari bibirmu
ada lonceng bertalu di dadaku
Dingin malam seperti setuju dengan rinduku
yang menggigit tepi hatiku
kuturunkan celanamu
kutelusuri liku tubuhmu
kuhampiri tiap lekukannya
kuusap leher dan bibirmu
ada jemari bertaut di udara
ada hati yang pasrah di antaranya
cuma ada tubuhmu yang tak berbalut di sana
amat jauh tetapi!
Arsip untuk Desember 14th, 2007
Bila Saja…
Diposkan dalam Bebas, Cinta, Diary, Kawah Batin, Puisi Cinta, Unek-Unek, Label Diary, Kawah Batin, Puisi, Puisi Cinta, Unek-Unek pada Desember 14, 2007 | Leave a Comment »
Pada Langit Malam
Diposkan dalam Bebas, Cinta, Diary, Kawah Batin, Puisi Cinta, Unek-Unek, Label Diary, Kawah Batin, Puisi, Puisi Cinta, Unek-Unek pada Desember 14, 2007 | Leave a Comment »
Kupandangi malam begitu gelap
Sisa hujan tadi sore
Kucari bayanganmu di sela-sela awan hitam
Gelapnya tak mampu menutup sinarmu
Malam sampai ke ujung
fajar hampir bangun
Kucari senyummu di garis batas cakrawala
Kumandang Kidung
Gaungnya sampai samudra
Kuingin dekapmu yang hangat
Meraba cahaya hayat
Biar bulan dingin
tak lagi mengembun
Mata jiwa penat
Biar kabur hanya sesat di rimba lebat
Engkaulah yang membuatku merana
hanya bisa mengenang
jalan-jalan di tepi telaga Sarangan
bayang-bayang cahaya rindu menyelinap
di antara serpih-serpih waktu yang nanar